Gambaran Umum Tingkat Stress pada Mahasiswa dalam Menghadapi Proses Belajar di Program Studi Diploma III Keperawatan

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah

Keperawatan sebagai sebuah profesi telah disepakati berdasarkan pada hasil lokakarya nasional pada tahun 1983 dan didefinisikan sebagai suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Oleh karena itu sifat pendidikan keperawatan juga menekankan pemahaman tentang keprofesian (Hidayat, 2008).

Pada tahap akademik mahasiswa mendapatkan teori-teori dan konsep-konsep. Mata kuliah pada tahap ini terbagi menjadi kelompok mata kuliah yang sifatnya umum, mata kuliah penunjang seperti mata kuliah medis yang secara tidak langsung menunjang mata kuliah keperawatan dan mata kuliah keahlian berupa mata kuliah keperawatan. Sedangkan pada tahap profesi mahasiswa mengaplikasikan teori-teori dan konsep-konsep yang telah di dapat selama tahap akademik.

Belajar merupakan proses sepanjang hidup. Untuk tumbuh, masing – masing manusia membutuhkan pengetahuan baru dan memperbaiki kemampuan untuk berfikir, menyelesaikan masalah, dan membuat penilaian. Belajar dan berpikir tidak dapat dipisahkan. Sepanjang waktu, sejalan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, menyajikan ide – ide dan buat kesimpulan yang valid (Perry & Potter, 2005).

Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar secara aktif dalam mengembangkan kreativitas berfikirnya. Tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi dirinya sendiri. Indikator keberhasilan suatu pembelajaran adalah tercapainya ketuntasan belajar siswa yang dicerminkan oleh nilai kognitif, nilai afektif, dan nilai psikomotorik (Suhailah, 2011).

Dalam setiap jenjangnya, proses belajar tentu mengalami perbedaan. Pada saat menempuh jenjang pendidikan di SMA, siswa lebih menggantungkan pelajarannya pada guru dan kurang berinisiatif dalam mengumpulkan ilmu. Siswa lebih tergantung pada pelajaran yang diberikan guru dan buku-buku sekolah dibandingkan dengan mencari dan mengembangluaskan ilmunya secara mandiri. Maka dari itu pada saat siswa menempati jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Universitas atau Perguruan Tinggi), tentunya siswa akan mengalami stress dan adaptasi dalam menerima mata kuliah yang baru dipelajarinya. Dengan adanya beban SKS yang baru di hadapi siswa, tentunya siswa harus lebih giat dalam meluaskan ilmu yang sedang di gelutinya demi mendapakan nilai IPK yang telah di tentukan pihak Universitas.

Satuan kredit semester (SKS) digunakan untuk menyatakan seberapa besarnya beban studi yang dihadapi oleh para mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, baik program semester maupun program lengkap (Buku panduan akademik UMMI, 2003-2004).

Pembinaan mahasiswa di lingkungan kampus tidak dapat dilepaskan dari eksistensi mahasiswa dalam totalitas kedudukan, fungsi dan perannya baik sebagai sivitas akademika maupun sebagai unsur terpelajar bangsa dalam kaitannya sebagai warga Negara yang baik. Program pembinaan mahasiswa dalam rangka pelaksanaan Perguruan Tinggi dapat dibedakan atas dua kategori, yakni kategori intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan intrakurikuler yang bersifat wajib adalah berbagai kegiatan program studi yang dihargai dengan jumlah satuan kredit semester (SKS) tertentu, sedangkan kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan non SKS yang pada umumnya bersifat pembinaan karakter yang menunjang keberhasilan studi dalam aspek interaksi social. Hendaknya harus disadari bahwa keterikatan mahasiswa dan pembimbingnya sangat menentukan hasil kelulusan (Buku panduan akademik UMMI, 2007-2008)

Menurut kurikulum yang mengacu pada KepMendiknas RI No. 232/u/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dan KepMendiknas 045/U/2002 tentang kurikulum inti pendidikan tinggi Program Pendidikan Diploma III Keperawatan memiliki lama studi 6 semester dengan batas maksimal 10 semester. Kurikulum terdiri dari kurikulum inti sebesar 96 SKS dan kurikulum institusional 14 – 24 SKS. Kurikulum inti terdiri dari 42 SKS (44%), praktikum dan klinik 56 SKS (56%). Kurikulum institusional dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan serta cirri khas institusi yang bersangkutan. Pengalaman belajar meliputi teori (T), praktikum (P), dan klinik (K) atau lapangan (L).

Berdasarkan peraturan akademik di Universitas …….. mengharuskan mahasiswanya untuk bisa mencapai nilai IPK minimal 2,75 untuk syarat kelulusannya. Di salah satu Program Studi yang ada di Universitas ………. khususnya di Program Studi Diploma III Keperawatan, akademik sudah menentukan sistem penilaiannya sendiri.

Mulai dari pengumpulan nilai hasil proses belajar dan ujian di kelas, belajar dan ujian di laboratorium hingga praktek lapangan di berbagai lahan praktek, yang diantaranya adalah RS, PUSKESMAS, SLB, TK dan DESA TERPENCIL.

Menurut buku panduan yang ada pada tahun 2003-2004, Besar beban studi kurikulum inti pada tahap program Diploma adalah minimal 120 SKS.

Jika dibandingkan antara Program Studi Diploma III Keperawatan dengan Program Studi Diploma III Perpajakan khususnya di Universitas …………… tentu terdapat perbedaan yang mungkin sangat jauh dari program pembelajarannya masing – masing walaupun jenjang waktu yang ditempuh sama – sama 3 tahun. Namun pada kenyataannya kurun waktu 3 tahun sangat kurang bagi mahasiswa keperawatan karena padatnya jadwal di luar perkiraan, misalnya waktu yang kurang untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah serta ujian akhir lainnya seperti uji komperhensif.

Menurut buku panduan akademik Universitas ……… tahun ajaran 2007-2008, jumlah beban SKS yang wajib ditempuh mahasiswa Program Studi Perpajakan ada 116 SKS. Namun jumlah SKS yang diperoleh sudah termasuk dalam PKL dan penyusunan laporan tugas akhir sehingga waktu 3 tahun cukup untuk memenuhi kewajiban mahasiswa tersebut tanpa adanya waktu yang lebih untuk menyelesaikan semuanya.

Keperawatan yang mungkin mempunyai program lain di luar mata kuliah yang seharusnya berjalan sesuai jalurnya memaksa mahasiswa keperawatan itu sendiri untuk mengatur dan memporsir tenaga extra untuk menghadapi perubahan – perubahan yang terjadi di tengah ataupun di akhir dari berlangsungnya proses belajar mengajar.

Setiap institusi pendidikan tinggi keperawatan hampir memiliki kurikulum yang  berbeda. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan misi dan visi dari institusi itu sendiri. Di dalamnya tergambar kompetensi – kompetensi yang harus dicapai mahasiswa.

Peraturan akademik Program Studi Diploma III Keperawatan mewajibkan mahasiswanya untuk mencapai 120 beban SKS yang di tempuh dalam waktu 3 tahun dengan nilai IPK minimal 2.75. Setelah peneliti mengambil data dari pihak akademik, peneliti mendapatkan banyak mahasiswa yang memiliki IPK di bawah batas minimal.

Data yang di dapat adalah sebagai berikut :

  1. Angkatan 2007 dengan jumlah mahasiswa 38 orang terdapat 8 mahasiswa (21,05%) yang memiliki IPK di bawah 2,75 dengan nilai terendah 1,26 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-6.
  2. Angkatan 2008 dengan jumlah mahasiswa 36 orang terdapat 31 mahasiswa (86,11%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 2,08 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-4.
  3. Angkatan 2009 dengan jumlah mahasiswa 33 orang terdapat 19 mahasiswa (57,57%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 2,19 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-2.
  4. Angkatan 2010 dengan jumlah mahasiswa 32 orang terdapat 20 mahasiswa (68,75%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 0,11 yang didapat dari hasil proses belajar    semester 1.

Dari hasil data di atas peneliti menemukan bahwa setiap angkatan mengalami penurunan jumlah kualitas IPK dengan membandingkan angkatan yang sudah lulus sampai angkatan yang masih menempuh proses belajar mengajar di Program Studi Diploma III Keperawatan Universitas ………

Oleh karenanya peneliti berinisistif untuk meneliti gambaran umum tingkat stress pada mahasiswa dalam menghadapi proses belajar di Program Studi Diploma III Keperawatan di Universitas ……..

DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: