Mengenal Menu Bar SPSS 17

1. File

Menu file digunakan untuk keperluan yang berhubungan dengan file data, seperti membuka file baru, output baru, membuka database, menutup file, menyimpan, print dan sebagainya

spssfile

2. Edit

Menu edit digunakan untuk keperluan yang berhubungan dengan perbaikan dan pengaubahan data, seperti undo, redo, cut, copy, clear, insert variable, insert case dan sebagainya

spssedit

3. View

Menu view digunakan untuk mengatur toolbar pada halaman SPSS, seperti status bar, font, value label, dan sebagainya

spssview

4. Data

Menu data digunakan untuk membuat perubahan data SPSS secara keseluruhan, seperti mengurutkan data, validasi data, menggabungkan data, membagi data, pembobotan dan sebagainya

spssdata

5. Transform

Menu transform digunakan untuk membuat perubahan pada variable yang telah dipilih dengan kriteria tertentu, seperti compute variable, rank cases, create time series, dan sebagainya

spsstransform

6. Analyze

Menu analyze digunakan untuk olah data atau menganalisis data seperti analisis deskriptif, analisis korelasi, regresi, log linier, dan sebagainya

spssanalyze

7. Graphs

Menu graph digunakan untuk membuat grafik, seperti Bar, Dot, Line Pie, Histogram, Boxspot, dan sebagainya

spssgraph

8. Utilities

Menu utilities digunakan untuk mengatur tampilan menu, data file comment, run script, dan sebagainya

spssutilities

9. Add-ons

Menu add-ons adalah menu yang berisi tentang aplikasi tambahan, servis, dan sebagainya yang dapat dilihat di SPSS website.

spssadd-ons

10. Windows

Menu windows digunakan untuk split file, minimize all windows, dan sebagainya

spsswindows

11. Help

Menu help digunakan untuk bantuan informasi mengenai program SPSS yang dapat diakses secara mudah dan jelas.

spsshelp

Mengaktifkan Program SPSS 17

Untuk mengaktifkan program SPSS 17, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Lakukan klik ganda pada ikon SPSS 17 pada dekstop atau pada menu start

spss1

Dan akan keluar tampilan berikut ini

spss2

2. Klik Cancel untuk memulai membuat variable dan data baru

Dan akan keluar tampilan seperti berikut

spss3

Gambaran Umum Tingkat Stress pada Mahasiswa dalam Menghadapi Proses Belajar di Program Studi Diploma III Keperawatan

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah

Keperawatan sebagai sebuah profesi telah disepakati berdasarkan pada hasil lokakarya nasional pada tahun 1983 dan didefinisikan sebagai suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Oleh karena itu sifat pendidikan keperawatan juga menekankan pemahaman tentang keprofesian (Hidayat, 2008).

Pada tahap akademik mahasiswa mendapatkan teori-teori dan konsep-konsep. Mata kuliah pada tahap ini terbagi menjadi kelompok mata kuliah yang sifatnya umum, mata kuliah penunjang seperti mata kuliah medis yang secara tidak langsung menunjang mata kuliah keperawatan dan mata kuliah keahlian berupa mata kuliah keperawatan. Sedangkan pada tahap profesi mahasiswa mengaplikasikan teori-teori dan konsep-konsep yang telah di dapat selama tahap akademik.

Belajar merupakan proses sepanjang hidup. Untuk tumbuh, masing – masing manusia membutuhkan pengetahuan baru dan memperbaiki kemampuan untuk berfikir, menyelesaikan masalah, dan membuat penilaian. Belajar dan berpikir tidak dapat dipisahkan. Sepanjang waktu, sejalan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membentuk asumsi, menyajikan ide – ide dan buat kesimpulan yang valid (Perry & Potter, 2005).

Pembelajaran merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar secara aktif dalam mengembangkan kreativitas berfikirnya. Tujuan pokok penyelenggaraan kegiatan pembelajaran adalah membelajarkan siswa agar mampu memproses dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi dirinya sendiri. Indikator keberhasilan suatu pembelajaran adalah tercapainya ketuntasan belajar siswa yang dicerminkan oleh nilai kognitif, nilai afektif, dan nilai psikomotorik (Suhailah, 2011).

Dalam setiap jenjangnya, proses belajar tentu mengalami perbedaan. Pada saat menempuh jenjang pendidikan di SMA, siswa lebih menggantungkan pelajarannya pada guru dan kurang berinisiatif dalam mengumpulkan ilmu. Siswa lebih tergantung pada pelajaran yang diberikan guru dan buku-buku sekolah dibandingkan dengan mencari dan mengembangluaskan ilmunya secara mandiri. Maka dari itu pada saat siswa menempati jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Universitas atau Perguruan Tinggi), tentunya siswa akan mengalami stress dan adaptasi dalam menerima mata kuliah yang baru dipelajarinya. Dengan adanya beban SKS yang baru di hadapi siswa, tentunya siswa harus lebih giat dalam meluaskan ilmu yang sedang di gelutinya demi mendapakan nilai IPK yang telah di tentukan pihak Universitas.

Satuan kredit semester (SKS) digunakan untuk menyatakan seberapa besarnya beban studi yang dihadapi oleh para mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, baik program semester maupun program lengkap (Buku panduan akademik UMMI, 2003-2004).

Pembinaan mahasiswa di lingkungan kampus tidak dapat dilepaskan dari eksistensi mahasiswa dalam totalitas kedudukan, fungsi dan perannya baik sebagai sivitas akademika maupun sebagai unsur terpelajar bangsa dalam kaitannya sebagai warga Negara yang baik. Program pembinaan mahasiswa dalam rangka pelaksanaan Perguruan Tinggi dapat dibedakan atas dua kategori, yakni kategori intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan intrakurikuler yang bersifat wajib adalah berbagai kegiatan program studi yang dihargai dengan jumlah satuan kredit semester (SKS) tertentu, sedangkan kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan non SKS yang pada umumnya bersifat pembinaan karakter yang menunjang keberhasilan studi dalam aspek interaksi social. Hendaknya harus disadari bahwa keterikatan mahasiswa dan pembimbingnya sangat menentukan hasil kelulusan (Buku panduan akademik UMMI, 2007-2008)

Menurut kurikulum yang mengacu pada KepMendiknas RI No. 232/u/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa dan KepMendiknas 045/U/2002 tentang kurikulum inti pendidikan tinggi Program Pendidikan Diploma III Keperawatan memiliki lama studi 6 semester dengan batas maksimal 10 semester. Kurikulum terdiri dari kurikulum inti sebesar 96 SKS dan kurikulum institusional 14 – 24 SKS. Kurikulum inti terdiri dari 42 SKS (44%), praktikum dan klinik 56 SKS (56%). Kurikulum institusional dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan serta cirri khas institusi yang bersangkutan. Pengalaman belajar meliputi teori (T), praktikum (P), dan klinik (K) atau lapangan (L).

Berdasarkan peraturan akademik di Universitas …….. mengharuskan mahasiswanya untuk bisa mencapai nilai IPK minimal 2,75 untuk syarat kelulusannya. Di salah satu Program Studi yang ada di Universitas ………. khususnya di Program Studi Diploma III Keperawatan, akademik sudah menentukan sistem penilaiannya sendiri.

Mulai dari pengumpulan nilai hasil proses belajar dan ujian di kelas, belajar dan ujian di laboratorium hingga praktek lapangan di berbagai lahan praktek, yang diantaranya adalah RS, PUSKESMAS, SLB, TK dan DESA TERPENCIL.

Menurut buku panduan yang ada pada tahun 2003-2004, Besar beban studi kurikulum inti pada tahap program Diploma adalah minimal 120 SKS.

Jika dibandingkan antara Program Studi Diploma III Keperawatan dengan Program Studi Diploma III Perpajakan khususnya di Universitas …………… tentu terdapat perbedaan yang mungkin sangat jauh dari program pembelajarannya masing – masing walaupun jenjang waktu yang ditempuh sama – sama 3 tahun. Namun pada kenyataannya kurun waktu 3 tahun sangat kurang bagi mahasiswa keperawatan karena padatnya jadwal di luar perkiraan, misalnya waktu yang kurang untuk penyusunan Karya Tulis Ilmiah serta ujian akhir lainnya seperti uji komperhensif.

Menurut buku panduan akademik Universitas ……… tahun ajaran 2007-2008, jumlah beban SKS yang wajib ditempuh mahasiswa Program Studi Perpajakan ada 116 SKS. Namun jumlah SKS yang diperoleh sudah termasuk dalam PKL dan penyusunan laporan tugas akhir sehingga waktu 3 tahun cukup untuk memenuhi kewajiban mahasiswa tersebut tanpa adanya waktu yang lebih untuk menyelesaikan semuanya.

Keperawatan yang mungkin mempunyai program lain di luar mata kuliah yang seharusnya berjalan sesuai jalurnya memaksa mahasiswa keperawatan itu sendiri untuk mengatur dan memporsir tenaga extra untuk menghadapi perubahan – perubahan yang terjadi di tengah ataupun di akhir dari berlangsungnya proses belajar mengajar.

Setiap institusi pendidikan tinggi keperawatan hampir memiliki kurikulum yang  berbeda. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan misi dan visi dari institusi itu sendiri. Di dalamnya tergambar kompetensi – kompetensi yang harus dicapai mahasiswa.

Peraturan akademik Program Studi Diploma III Keperawatan mewajibkan mahasiswanya untuk mencapai 120 beban SKS yang di tempuh dalam waktu 3 tahun dengan nilai IPK minimal 2.75. Setelah peneliti mengambil data dari pihak akademik, peneliti mendapatkan banyak mahasiswa yang memiliki IPK di bawah batas minimal.

Data yang di dapat adalah sebagai berikut :

  1. Angkatan 2007 dengan jumlah mahasiswa 38 orang terdapat 8 mahasiswa (21,05%) yang memiliki IPK di bawah 2,75 dengan nilai terendah 1,26 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-6.
  2. Angkatan 2008 dengan jumlah mahasiswa 36 orang terdapat 31 mahasiswa (86,11%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 2,08 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-4.
  3. Angkatan 2009 dengan jumlah mahasiswa 33 orang terdapat 19 mahasiswa (57,57%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 2,19 yang didapat dari hasil proses belajar semester 1-2.
  4. Angkatan 2010 dengan jumlah mahasiswa 32 orang terdapat 20 mahasiswa (68,75%) yang memiliki IPK (sementara) di bawah 2,75 dengan nilai terendah 0,11 yang didapat dari hasil proses belajar    semester 1.

Dari hasil data di atas peneliti menemukan bahwa setiap angkatan mengalami penurunan jumlah kualitas IPK dengan membandingkan angkatan yang sudah lulus sampai angkatan yang masih menempuh proses belajar mengajar di Program Studi Diploma III Keperawatan Universitas ………

Oleh karenanya peneliti berinisistif untuk meneliti gambaran umum tingkat stress pada mahasiswa dalam menghadapi proses belajar di Program Studi Diploma III Keperawatan di Universitas ……..

DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TBC

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan Nasional dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahterahaan rakyat Indonesia secara menyeluruh. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal (Depkes RI, 2004). Untuk mencapai tujuan tersebut maka disusun program pelayanan kesehatan diantaranya program pemberantasan penyakit menular. Salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah di Indonesia adalah penyakit tuberculosis (TBC).

TBC merupakan masalah kesehatan yang sangat penting di dunia karena sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi. Diperkirakan terdapat delapan juta penderita TBC di seluruh dunia dalam setahun dengan angka kematian tiga juta orang. Paling sedikit 1 (satu) orang akan terinfeksi TBC setiap detik dan setiap 10 detik akan ada satu orang yang mati akibat TBC. TBC membunuh 100.000 anak setiap tahun dan hampir satu juta wanita dalam setahun (Aditama, 2002).

Diperkirakan 95 % penderita TBC berada di negara berkembang. Dari jumlah tersebut, 75 % penderita TBC adalah kelompok usia produktif yakni umur antara 15 sampai dengan 50 tahun.  Dan 25 % dari seluruh kematian penderita TBC sebenarnya dapat dicegah. Pada tahun 1993 WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TBC disebabkan penyakit TBC tidak terkendali oleh karena banyaknya penderita yang tidak dapat disembuhkan, terutama penyakit menular khususnya BTA Positif. Oleh sebab itu sejak tahun 1995 program pemberantasan TBC dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) atas rekomendasi WHO. Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost effective (Depkes RI, 2002).

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang saat ini menduduki peringkat ketiga penyumbang terbesar penderita TBC setelah India dan China. Sebenarnya penyakit TBC di Indonesia mulai menurun insidennya pada kurun waktu 1952-1997. Namun angka ini kembali melonjak mulai tahun 1998 hingga sekarang. Krisis ekonomi dikatakan sebagai salah satu penyebab peningkatan kejadian dan kematian TBC di Indonesia (Depkes RI, 2003).

Pada tahun 1995 hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor 3 (tiga) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor 1 (satu) dari golongan penyakit infeksi. Tahun 1999, WHO mempekirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian sekitar 140.000 jiwa. Sehingga diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TBC paru BTA positif (Depkes RI, 2002).

Di Sumatera Selatan untuk kasus baru TBC pada tahun 2003 berjumlah 4.988 penderita, tahun 2004 terjadi peningkatan kasus menjadi 6.427 penderita TBC dan pada tahun 2005 jumlah penderita TBC meningkat kembali menjadi 6.874 penderita (Dinkes Sum-Sel, 2005). Pada Kabupaten Lahat kasus baru TBC pada tahun 2003 terdapat 370 penderita, tahun 2004 berjumlah 500 penderita dan tahun 2005 berjumlah 517 penderita. Di wilayah Puskemas BBB jumlah penderita TBC pada tahun 2003 berjumlah 61 penderita, tahun 2004 berjumlah 73 penderita dan tahun 2005 berjumlah 94 penderita. Dari data tersebut terlihat penderita TBC mengalami peningkatan dari tahun ke tahun di Puskesmas BBB sendiri menempati urutan ke 2 (dua) penyumbang kasus TBC di Kabupaten BBX

Secara umum kejadian TBC dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:  faktor orang seperti jenis kelamin, umur, tingkat, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, dan faktor lingkungan. Di Puskesmas BBB faktor tersebut belum diketahui karena belum ada penelitian yang dilakukan, untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TBC di Puskesmas BBB Tahun 2006”.

DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA

Persepsi Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap Bedah

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

               Rumah Sakit adalah bagian yang amat penting dari suatu sistem kesehatan dan organisasi yang bersifat padat karya, padat modal, padat teknologi dan padat keterampilan (Soeroso, 2003). Selain itu, rumah sakit juga merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki peran sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Aditama, 2003).

Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim mulai tim multidisiplin termasuk tim keperawatan. Tim keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam terus-menerus (http: // perawat. Info / blog  / ? p : 7).

Menurut WHO Expert Committee On Nursing Practice (1996) dalam Aditama (2003) mengatakan bahwa keperawatan adalah ilmu dan seni sekaligus disebutkan bahwa pelayanan keperawatan bertugas membantu individu, keluarga dan kelompok untuk mencapai potensi optimalnya di bidang fisik, mental dan sosial, dalam ruang lingkup kehidupan dan pekerjaannya.

Keperawatan pada hakekatnya merupakan suatu profesi yang mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan yang fokusnya pada upaya preventif, promotif dan curatif, yang bertujuan untuk membantu klien mencapai dan memelihara kesehatannya secara optimal untuk memaksimalkan kualitas kehidupannya, dengan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi klien (Ropi, 2004). Adapun pengertian sehat disini yaitu suatu kondisi keseimbangan antara status kesehatan biologis (jasmani), psikologis (mental), sosial dan spiritual yang memungkinkan orang tersebut hidup secara mandiri dan                                      produktif (Ali, 2001). Apabila kebutuhan pasien baik dari aspek biologi maupun psikologi, sosial dan spiritual tidak terpenuhi dalam pelayanan keperawatan akan mengakibatkan pasien sulit untuk memperoleh kesehatannya kembali dengan cepat. Dikarenakan kebutuhan tersebut saling berkaitan satu sama lain. Oleh sebab itu seorang perawat tidak hanya memperhatikan penyakit pasien saja tapi memperhatikan akibat pemyakit terhadap fungsi dan kesehatan pasien pada seluruh dimensi (Potter, 2005). Dapat dinyatakan bahwa peningkatan mutu pelayanan keperawatan sebagaimana yang ditulis Huber (1996) bahwa 90 % pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah pelayanan keperawatan. Apalagi keterlibatan perawat terhadap pemberian ASKEP berlangsung secara berkesinambungan selama 24 jam sehari dan merupakan kontak pertama dengan penerima pelayanan kesehatan  (Hamid, 1999).

Profesi keperawatan memiliki permasalahan diantaranya belum mantapnya standar pelayanan profesi keperawatan, padahal untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu mutlak diperlukan adanya standar profesi baku. Disamping itu masih ditemukannya kerancuan praktek keperawatan, hal ini terjadi karena masih banyaknya perawat yang bekerja di rumah sakit belum menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan ilmu dan keterampilan keperawatan (Effendi, 2001).

Menurut penelitian Sary (2004) tentang gambaran persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan di RSUD Dr. H. M. Rabbain kabupaten Muara Enim menunjukkan pelayanan keperawatan dalam aspek psikologis dipersepsikan baik oleh 61,7 % pasien, pelayanan keperawatan dalam aspek biologis dan sosial dipersepsikan kurang baik oleh sebagian besar pasien dengan persentase 74,1 % pada aspek biologis dan 56,8 % pada aspek sosial. Sedangkan pelayanan keperawatan yang dipersepsikan tidak baik oleh sebagian besar responden yaitu pada aspek spiritual sebanyak 58 %.

Klien mengharapkan penghargaan atas uang yang telah mereka berikan dan mengharapkan kualitas pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan. Pada saat ini masih banyak klien yang menuntut untuk diberikan informasi tentang kondisi kesehatan dan keputusan yang terkait dengan tindakan keperawatan yang akan diterimanya (http : // Perawat. Info / blog / ? p : 7).

Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai, persepsi dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Para penerima jasa pelayanan kesehatan saat ini telah menyadari hak-haknya sehingga keluhan, harapan, laporan, dan tuntutan pengadilan sudah menjadi suatu bagian dari upaya mempertahankan hak mereka sebagai penerima jasa tersebut. Oleh karena itu industri jasa kesehatan menjadi semakin merasakan bahwa kualitas pelayanan merupakan upaya kompetitif dalam rangka mempertahankan eksistensi pelayanan tersebut      (http : // Perawat. Info / blog / ? p : 7). Namun saat ini pelayanan rumah sakit di Indonesia secara umum masih memprihatinkan sehingga menimbulkan penilaian disebagian kalangan masyarakat untuk mempercayai rumah sakit diluar negeri    (http: // www. Depkes . go.id).

Rumah sakit ??? merupakan rumah sakit tipe B. Salah satu bentuk pelayanan yang diberikannya adalah pelayanan rawat inap bedah yang terdiri dari ruang bedah laki-laki (Cempaka) dan wanita (Dahlia). Adapun jumlah  tenaga perawatnya 30 orang dengan latar pendidikan S1, D3, SPR dan SPK.

Berdasarkan laporan bulanan pada bagian Rekam Medik RS ???, jumlah pasien rawat inap bedah dalam 6 bulan terakhir dari bulan November 2006 yang terdiri dari pasien dinas, Askes dan partik (Umum) antara lain pada bulan November 2005 berjumlah 83 orang, bulan Desember 2005 berjumlah 82 orang, bulan Januari 2006 berjumlah 104 orang, bulan Februari 2006 berjumlah 101 orang, bulan Maret 2006 berjumlah 96 orang dan bulan April 2006 terjadi penurunan yaitu berjumlah 88 pasien. Kinerja pelayanan yang telah diberikan oleh RS ??? dapat diketahui bahwa BOR (Bed Occupancy Rate) pada 6 bulan terakhir berkisar antara 52 % – 62 % dengan rata – rata 58 %. Walaupun hasil ini telah mencukupi standar Depkes yaitu rata-rata BOR 50 – 80 % namun hasilnya masih rendah. Hal ini tidak terlepas dari pelayanan yang diberikan oleh RS tersebut, salah satunya pelayanan keperawatan. Berdasarkan pengamatan peneliti pada saat praktik pemenuhan kebutuhan dasar manusia (PKDM) pada tahun 2004,  didapatkan bahwa pelayanan keperawatan dalam hal memenuhi kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritual pasien belum baik.

Berdasarkan hal yang telah dijelaskan diatas maka peneliti ingin mengetahui persepsi pasien terhadap pelayanan keperawatan di Ruang Rawat Inap Bedah Rumah Sakit ??? pada tahun 2006.

DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA

Pengantar SPSS

statistik

SPSS adalah sebuah program komputer yang digunakan untuk membuat analisis statistika. SPSS dipublikasikan oleh SPSS Inc.

SPSS (Statistical Package for the Social Sciences atau Paket Statistik untuk Ilmu Sosial) versi pertama dirilis pada tahun 1968, diciptakan oleh Norman Nie, seorang lulusan Fakultas Ilmu Politik dari Stanford University, yang sekarang menjadi Profesor Peneliti Fakultas Ilmu Politik di Stanford dan Profesor Emeritus Ilmu Politik di University of Chicago. SPSS adalah salah satu program yang paling banyak digunakan untuk analisis statistika ilmu sosial. SPSS digunakan oleh peneliti pasar, peneliti kesehatan, perusahaan survei, pemerintah, peneliti pendidikan, organisasi pemasaran, dan sebagainya. Selain analisis statistika, manajemen data (seleksi kasus, penajaman file, pembuatan data turunan) dan dokumentasi data (kamus metadata ikut dimasukkan bersama data) juga merupakan fitur-fitur dari software dasar SPSS.

Statistik yang termasuk software dasar SPSS:
» Statistik Deskriptif: Tabulasi Silang, Frekuensi, Deskripsi, Penelusuran, Statistik Deskripsi Rasio
» Statistik Bivariat: Rata-rata, t-test, ANOVA, Korelasi (bivariat, parsial, jarak), Nonparametric tests
» Prediksi Hasil Numerik: Regresi Linear
» Prediksi untuk mengidentivikasi kelompok: Analisis Faktor, Analisis Cluster (two-step, K-means, hierarkis), Diskriminan.

Berbagai fitur dalam SPSS dapat diakses melalui menu pull-down atau dapat diprogram dengan bahasa perintah sintaks proprietary 4GL. Pemrograman perintah sintaks memiliki keuntungan di bidang reproduktivitas serta pengendalian manipulasi data kompleks dan analisis. Perhubungan menu pull-down juga menghasilkan sintaks perintah, walaupun pengaturan awalnya harus diubah terlebih dahulu agar sintaks dapat dilihat oleh user. Program dapat berjalan secara interaktif, atau tanpa pengendalian menggunakan Fasilitas Kerja Produksi. Sebagai tambahan, bahasa makro juga dapat digunakan untuk menulis perintah subrutin dan ekstensi program Python dapat mengakses informasi di dalam kamus data dan data, kemudian secara dinamis membuat program perintah sintaks.

Ekstensi program Phyton, yang diperkenalkan pada SPSS 14, menggantikan skrip SAX Basic yang kurang fungsional, walaupun SAX Basic juga masih dapat digunakan. Ekstensi Phyton menyebabkan SPSS dapat menjalankan statistik mana pun dalam paket free software R. Sejak versi 14 dan seterusnya, SPSS dapat diatur secara eksternal melalui Phyton pada program VB.NET menggunakan “plug-ins” yang telah disediakan.

SPSS meletakkan batasan-batasan pada struktur file internal, tipe data, pengolahan data dan pencocokan file, yang memudahkan pemrograman. SPSS datasets memiliki struktur tabel 2 dimensi dimana bagian baris menunjukkan kasus-kasus (seperti pribadi atau rumah tangga) dan bagian kolom menampilkan ukuran-ukuran (seperti umur, jenis kelamin, pendapatan rumah tangga). Hanya 2 tipe data yang digambarkan : numerik dan teks (string). Seluruh pengolahan data dilakukan berurutan kasus per kasus melalui file. File dapat dipasangkan satu per satu atau satu-banyak, tapi tidak dapat banyak per banyak.

User interface grafis memiliki 2 jenis tampilan yang dapat dipilih dengan cara meng-klik salah satu dari dua tombol di bagian bawah kiri dari window SPSS. Tampilan ‘Data View’ menampilkan tampilan spreadsheet dari kasus-kasus (baris) dan variabel (kolom). Tampilan ‘Variable View’ menampilkan kamus metadata di mana setiap baris mewakili sebuah variabel dan menampilkan nama variabel, label variabel, label nilai, lebar cetakan, tipe pengukuran dan variasi dari karakteristik-karakteristik lainnya. Sel-sel di kedua tampilan dapat diedit secara manual, memungkinkan pengaturan struktur file dan pemasukan data tanpa harus menggunakan sintaks perintah. Hal ini cukup untuk dataset-dataset kecil. Dataset yang lebih besar, seperti survei statistik, lebih sering dibuat menggunakan software data entry, atau dimasukkan selama computer-assisted personal interviewing, dengan pemindaian dan menggunakan software pengenalan karakter optikal, atau dengan pengambilan langsung dari kuesioner online. Dataset-dataset ini kemudian dimasukkan ke dalam SPSS.

SPSS dapat membaca dan menulis data dari file teks ASCII (termasuk file hierarkis), paket statistik lainnya, spreadsheets dan database. SPSS dapat membaca dan menulis ke dalam tabel database eksternal relasional melalui ODBC dan SQL.

Output statistik memiliki format file proprietary (file *.spo, men-support tabel poros) yang mana, sebagai tambahan atas penampil dalam paket, disediakan pembaca stand-alone. Output proprietary dapat diubah ke dalam bentuk teks atau Microsoft Word. Selain itu, output dapat dibaca sebagai data (menggunakan perintah OMS), sebagai teks, teks dengan pembatasan tabulasi, HTML, XML, dataset SPSS atau pilihan format image grafis (JPEG, PNG, BMP, dan EMP).

Hubungan antara Umur dan Persalinan dengan Kejadian Atonia Uteri

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang  Masalah

Pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih diwarnai oleh rendahnya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang rentan yaitu: ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas serta janin atau bayi pada masa perinatal. Hal ini ditandai dengan tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia yaitu: 307 per 100.000 kelahiran hidup, (SDKI 2002), penyebab kematian langsung ibu adalah pendarahan (40%-60%), hipertensi dalam kehamilan (20%-30%), dan infeksi nifas (20%-30%). (INDK.KR, THPIEG, PRIME, Pelatihan Asuhan dasar, 2000) .

Dalam rencana starategi nasional Making Pregnancy Safe (MPS). Di Indonesia 2001-2010 disebutkan bahwa dalam konteks rencana dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010, Visi MPS adalah “Kehamilan dan Persalinan di Indonesia berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan dengan  sehat” (Saifuddin dkk, 2002) .

Perdarahan masih merupakan salah satu sebab dari tiga penyebab utama kesakitan dan kematian maternal di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Pendarahan post partum merupakan salah satunya adalah atonia uteri (75% – 80%), (Nugroho, 2001) . Angka kejadian perdarahan post partum karena atonia

uteri yang tercatat di rekam medik instalasi kebidanan Rumah Sakit X>X berdasarkan klasifikasi menurut diagnosis obstetri periode Januari 1998 – Desember 1998, terdapat (0,17%) dari 1673 persalinan dan pada tahun 1999 (0,43%) dari 1162 persalinan. Dan pada tahun 2005 terjadi peningkatan kasus atonia uteri sebesar (1,35%).

Faktor-faktor predisposisi yang berperan terhadap terjadinya perdarahan yang mengakibatkan atonia uteri, seperti umur dan persalinan tindakan. Adapun faktor resiko umur adalah umur yang lebih dari 35 tahun dan umur yang kurang dari 20 tahun termasuk komplikasi resiko pada kehamilan dan persalinan, yang kemungkinan besar akan terjadi perdarahan diakibatkan karena atonia uteri. Selain itu faktor predisposisi yang mendukung adalah persalinan tindakan seperti ekstraksi vakum dan ektraksi forsep bisa menyebabkan perdarahan diakibatkan karena atonia uteri dimana uterus tidak berkontraksi secara normal sehingga uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar.

Atonia uteri bisa juga terjadi karena penatalaksanaan yang salah pada kala III, mencoba mempercepat kala tiga dengan mendorong dan memijat uterus sehingga mengganggu mekanisme fisiologi pelepasan plasenta dan dapat menyebabkan pemisahan sebagian plasenta yang mengakibatkan perdarahan, perdarahan yang terus-menerus yang tidak mendapat penanganan cepat akan menyebabkan syok dan kematian. Oleh karena itu sangatlah penting bagi penolong persalinan untuk mempersiapkan diri dalam melakukan penatalaksanaan awal terhadap masalah yang mungkin terjadi selama proses persalinan.

Salah satu usaha untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu, bidan yang tugas pokoknya membantu menyelamatkan nyawa ibu harus memiliki kemampuan professional, baik secara akademik maupun teknis, untuk mengantisipasi tugas bidan yang semakin komplek dan meningkatkan profesionalismenya dalam menghadapi tuntutan masyarakat serta perkembangan dan teknologi dalam bidang kesehatan khususnya kebidanan, yang lulusannya diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih berkualitas dan professional.

Berdasarkan uraian diatas karena masih tingginya angka kejadian Atonia Uteri maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Umur dan Persalinan Tindakan Dengan Kejadian Atonia Uteri Di Rumah Sakit X>X Pada Tahun 2006”