Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Penyakit Diare pada Balita

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG

Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan di suatu negara. Masa perkembangan tercepat dalam kehidupan anak terjadi pada masa balita (bayi dibawah lima tahun). Masa balita merupakan masa yang paling rentan terhadap serangan penyakit. Terjadinya gangguan kesehatan pada masa tersebut, dapat berakibat negatif bagi pertumbuhan anak itu seumur hidupnya (Adzania, 2004). Penyakit yang masih perlu diwaspadai menyerang balita adalah diare (Widjaja et al, 2003).

Diare merupakan keadaan dimana seseorang menderita mencret-mencret, tinjanya encer, dapat bercampur darah dan lendir kadang disertai muntah-muntah. Sehingga diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak-anak usia di bawah lima tahun (Ummuauliya, 2008).

Penyebab diare pada balita lebih beragam. Bisa karena infeksi bakteri, virus, dan amuba. Bisa jadi juga akibat salah mengonsumsi makanan. Protein susu sapi merupakan bahan makanan terbanyak penyebab diare. Makanan lain penyebab timbulnya alergi ialah ikan, telur, dan bahan pewarna atau pengawet (Melanicyber, 2008).

Diare seringkali dianggap sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun. Penyakit diare di negara maju, walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat, tetapi insiden diare tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan.

Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita terbesar di dunia. Menurut catatan UNICEF, setiap detik satu balita meninggal karena diare (www.ampl.or.id, diakses 5  Januari 2010).

Angka kejadian diare pada anak di dunia mencapai 1 miliar kasus tiap tahun, dengan korban meninggal sekitar 5 juta jiwa. Statistik di Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta kasus diare dan 16,5 juta diantaranya adalah balita (Pickering et al, 2004). Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella ssp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Basillus cereus, Clostridiumperfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).

Diare infeksi di negara berkembang menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika, anak-anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun (www. Library.usu.ac.id, diakses 5  Januari 2010).

Saat ini morbiditas (angka kesakitan) diare di Indonesia mencapai 195 per 1000 penduduk dan angka ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara di Asean (www.medicastore.com, diakses 5  januari 2010). Penanganan diare yang dilakukan secara baik selama ini membuat angka kematian akibat diare dalam 20 tahun terakhir menurun tajam. Walaupun angka kematian sudah menurun tetapi angka kesakitan masih cukup tinggi. Lama diare serta frekuensi diare pada penderita akut belum dapat diturunkan (lisa Ira,  2002).

 Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Angka kesakitan diare pada tahun 2006 yaitu 423 per 1000 penduduk, dengan jumlah kasus 10.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Di Indonesia  dilaporkan terdapat 1,6 sampai 2 kejadian diare  per tahun pada balita, sehingga secara keseluruhan diperkirakan kejadian diare  pada balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000-400.000 balita (Soebagyo, 2008).

Berdasarkan hasil rekapitulasi data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan jumlah penderita diare pada tahun 2007 berjumlah 48.000 penderita dan pada tahun 2008 Per Januari hingga 31 September 2008, penderita diare di Provinsi Sumsel mencapai 143.822 jiwa (http://www.digilibampl.mht, diakses 5 Januari 2010).  Sedangkan di daerah AAA, khususnya di daerah wilayah kerja Puskesmas ABC jumlah penderita diare mencapai 1.335 jiwa dan 619 di antaranya adalah balita di sepanjang tahun 2009 (Puskesmas ABC, 2009).

Menurut teori Lawren W. Green (1980), faktor predisposisi dari kejadian penyakit diare terdiri dari pengetahuan, sikap, keyakinan dan sosiodemografi. Sedangkan menurut Ngastiyah (2005), ada beberapa faktor resiko yang ikut berperan dalam timbulnya diare yang kebanyakan yaitu karena kurangnya pengetahuan orang tua maka penyuluhan  perlu diberikan.  Hasil penelitian Yuniarti (2008) yang berjudul “Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Pencegahan Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Burnai Kabupaten OKI Tahun 2009”, diketahui bahwa pengetahuan ibu memberikan kontribusi yang kuat dibandingkan dengan faktor lingkungan dan faktor ekonomi.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Ibu Terhadap Penyakit Diare Pada Balita di desa ABCD wilayah kerja Puskesmas ABC.

DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: